Sabtu, 04 Januari 2014

Menjawab Swadesi itu Apa III

Oleh: Beni Sulastiyo/ koordinator Swadesi

Pada tulisan sebelumnya saya sering menyampaikan istilah eksperimentasi gerakan. Apa yang kami maksud dengan ekaperimentasi gerakan, lalu apa saja yang sudah dieksperimentasikan?


Sejak gelombang reformasi mencapai puncaknya, tak ada lagi model pergerakan baru. Semua aktivis pergerakan menyebar kemana-mana. Ada yang merapat ke lingkaran politik elit. Ada yang beraktivitas di NGO, menjadi wartawan/ penulis, akademisi, peneliti, menjadi profesional diinstasi swasta, ada juga yang menjadi pengusaha. Aktivitas mereka lebih bersifat pribadi. Sementara kantong-kantong pergerakan mahasiswa kembali ke tradisi lama yaitu diskusi serta beraktivitas di lembaga intrakampus.

Tak ada lagi yang mampu mendesain sebuah gerakan perubahan yang terorganisir. Semua seakan telah digantikan perannya oleh elit politik partai. Beberapa mantan aktivis berupaya mendorong perubahan lewat issue-issue lokal yang spesifik seperti kerusakan lingkungan, penyerobotan tanah, dan penggusuran PKL. Sayangnya ikatan antara lembaga dan masyarakat tersebut berkarakter sangat cair. Merekapum sering kehabisan energi saat terpaksa membuat issue baru yang selaras dengan program lembaga donor.


Harus ada metode gerakan baru yang dapat menjaga gagasan masa lalu. Ia tak boleh berafiliasi dengan organ politik, tak boleh tergantung dengan lembaga donor baik swasta maupun pemerintah, tak boleh mengangkat issue-issue politik, dan tidak menggunakan aksi massa untuk menyampaikan opininya karena publik sudah membencinya.

Akhirnya digagaslah organ pergerakan yang diberi nama swadesi, serikat wirausahawan muda indonesia pada akhir desember tahun 2010. Namun, perkumpulan itu belum memiliki metode gerakan. Sebagai sebuah gerakan baru, metode gerakan pun mestinya harus baru. Lalu apa? Tak tahulah. Yang jelas kita perlu mencoba. Tidak ada yang tidak boleh, semua boleh. Harapannya adalah supaya muncul ide-ide unik yang selaras dan relevan dengan tuntutan dan tantangan yang dihadapi. Tak usah direncanakan harus seperti ini dan seperti itu. Nah kegiatan coba-coba metode gerakan inilah yang kami istilahkan eksperimentasi gerakan.

Eksperimentasi yang dilakukan tak hanya aksi saja tapi prinsip bergerak itu sendiri. Walaupun belum tampak jelas pola gerakannya, namun untuk sementara waktu rel pergerakan mengarah kepada 3 tema yaitu kemandirian, kepedulian, dan semangat berbagi. Metodenya adalah membentuk lembaga bisnis, sosial dan pendidikan dengan tiga tema tadi. Kenapa  hanya 3 tema? Karena hanya tiga tema itu saja yang dilakikan oleh teman-teman selama ini. Yang lainnya ada juga tapi tak terlalu concern.
Berikut beberapa ide dan metode gerakan yang telah dieksperimentasikan.


Pengetahuan menghasilkan materi
Dari berbagai eksperimentasi dan aksi kami meyakini bahwa pengetahuanlah yang menghasilkan materi. Bukan sebaliknya. Artinya kita tak perlu memulai aktivitas bisnis dan sosial dengan materi. Tapi semua harus dimulai dari pengetahuan. Jadi tak ada alasan untuk tidak bergerak jika kita tak memiliki modal awal material seperti alat, uang, atau ruang.
Berdirinya swadesiprinting misalnya bukan karena adanya alat cetak bernilai ratusan juta rupiah, bukan pula karena adanya uang dan ruang. Akan tetapi didirikan karena para pendirinya memilki pengetahuan yang memadai untuk megembangkan bisnis ini, lalu pelopornya yaitu Romadi Haryono, mengajak orang-orang yang memiliki pengetahuan dalam pengelolaan keuangan. Bertemulah kemudian dengan Mirza Moe'in. Lalu keduanya yang memiliki pengetahuan tentang orang-orang yang memiliki uang mencari orang tersebut untuk diajak bergabung. Bertemulah kemudian dengan H.Dedek Muzammil. Lalu mereka bertiga menarik orang-orang berpengetahuan lain khususnya dibidang tekhnis seperti Aria, Tri Angga, Irawan Kusuma. Lalu berjalanlah bisnis ini. Lalu berkembang dan memerlukan penataan sistem dan manajemen sehingga ditariklah penulis untuk membangun sistem pengelolaan bisnis secara profesional. Saat penulis ditarik tak ada negosiasi pembayaran. Yang ada adalah kesepakatan untuk saling membeckup bisnis masing-masing. Lalu bergabunglah bisnis yang saya kelola dalam bidang percetakan, konveksi, clothing, dan desain komunikasi visual ke dalam swadesiprinting. Semakin luaslah peluang dan kesempatan. Lalu bertambahlah alat produksi, permintaan pasar, perputaran uang, dan jumlah tenaga kerja.


Energi Peduli
Awalnya ada kegelisahan sekelompok orang dengan fenomena sering terjadinya musibah kebakaran di Kota Pontianak. Lalu kegelisahan itu dijawab oleh Romadi Haryono dengan ide untuk membuat badan pemadam kebakaran. Tanpa banyak diskusi ia pun membeli pompa air, saya menyumbang motor, kawan-kawan lainnya menyumbang tenaga untuk memodifikasi motor menjadi kendaraan pemadam kebakaran taktis, ada juga yang menyumbang tempat untuk dijadikan posko. Lalu bergabunglah orang-orang yang peduli lalu bertambahlah relawan dan semakin ramailah bantuan saat masyarakat membutuhkan tenaga untuk memadamkan kebakaran. Lalu beranekalah kegiatan dan berdatanganlah bantuan termasuk juga bantuan dari Bank Indonesia Provinsi Kalbar yang menghibahkan mobil pick up nya untuk pemadam kebakaran ini. 2 tahun berjalan saat ini pemadam kebakaran swadesi telah memiliki relawan lebih dari 30 orang lengkap dengan seragam, HT dan aneka peralatan.

Berbagai bentuk kepedulian dan semangat berbagi juga telah menjadikan beberapa penggiat swadesi menjadi trainer dalam berbagai pelatihan. Baik dalam bidang kewirausahaan, manajemen, kepariwisataan, desain komunikasi visual dan pengembangan UMKM di Kalbar. Saat ini swadesi juga sering menjadi pengajar tamu di beberapa lembaga pendidikan, baik setingkat SMA maupun perguruan tinggi. Teman-teman swadesi juga membantu pemerinta daerah secara gratis untuk membuat brand daerah tujuan wisatanya. Salah satu hasilnya adalah logo dan tagline pariwisata kabupaten Kubu Raya yang digarap oleh penulis, Irawan Kusuma dan Fachrurazi/ Aji.

Kedahsyatan Energi kepedulian akan terus di eksperimentasikan di masa yang akan datang termasuk rencana untuk mendirikan akademi desain grafis, mendirikan sekolah yang muridnya digaji, dan pusat pelatihan keterampilan gratis. Dimana walaupun tak punya dana yang memadai namun rekan-rekan swadesi akan memiliki ruang training centre dengan fasilitas dan luas lokasi yang sangat memadai di kawasan jln H Rais Rahman.


Kemandirian adalah Kekuatan
Meminta adalah kharakter orang yang lemah. Itulah keyakinan swadesi. Jika kita inhin kuat dam semakin kuat, mandirilah! Tegaklah di kaki sendiri. Dengan kemandirian kita akan lebih sibuk mengurusi diri sendiri daripada sibuk mgomongin orang lain. Dengan kemandirian kita akan menjadi pribadi-pribadi yang tak mudah dikuasai dan tak suka menguasai. Dengan kemandirian tak ada yang memberdayakan dan tak ada yang diberdayakan. Semua memiliki kewajiban uang sama untuk membangun eksistensi melalui pengetahuan dan kerja keras. Dengan watak kemandirian itu banyak rekan di swadesi memiliki pengaruh sangat kuat dalam berbagai bidang, baik salam bidang bisnis, sosial kemasyarakatan dan politik. Padahal trend yang digunakan saat ini adalah siapa yang tak mau menjilat maka ia tak akan selamat. Ternyata denhan kemandirian Swadesi tetap selamat dan terus berkembang walaupun tak pernah menjilat.
Bisnis yang dikelola oleh rekan-rekan swadesi, khususnya yang belabelkan "swadesi" dapat berkembang tanpa menjeratkan diri kepada lembaga perbankan. Lebih baik stagnan daripada berkembang melalui modal bank, begitulah kira-kira jargonnya. Pola bisnis melalui sistem kerjasama bagi hasil yang mengedepankan prinsip kesetaraan, kejujuran dan keadilan nyatanya dapat mengembangkan bisnis secara lebih akseleratif ketimbang mengandalkan bank komersial.

Eksperimentasi kemandirian juga diterapkan dalam sistem ketenagakerjaan. Setiap karyawan harus punya keahlian.Keahlian adalah profesi yang menjadikan seseorang bisa hidup mandiri. Mereka yang dilimpahi amanat sebagai manajer, staf manajemen atau kasir adalah wilayah tugas dan mereka berhak mendapatkan kompensasi berupa gaji. Penghasilan mereka akan menjadi tak terbatas apabila mereka mampu dan mau mengembangkan profesi. Tanpa merasa takut gagal dan tak bisa makan, karena urusan makan telah menjadi tanggung jawab penuh perusahaan. Swadesi percaya bahwa modal energi setiap orang untik melakukan hal-hal yang besar di dunia ini adalah sama, yaitu satu piring nasi + lauknya.



Next...
Pengembangan Industri Kreatif
Online promotion
Ekspansi modal Nekad.

Menjawab Swadesi itu Apa II

Oleh: Beni Sulastiyo/ Koordinator Swadesi

Analisis dan kritik terhadap masa lalu selalu menjadi inspirasi bagi desain pergerakan di masa yang akan datang. Gagasan dan semangatnya sudah ada, tapi metodenya seperti apa? Pertanyaan inilah yang harus dijawab. Dijawab bukan sekedar lewat kertas dan meja diakusi. Tapi lewat berbagai aksi dan eksperimentasi.


Nah inilah yang bisa menjelaskan perbedaan apa itu swadesi dan apa itu pemadam kebakaran swadesi borneo, apa itu swadesi dan apa itu swadesiprinting, apa itu swadesi dan apapula swadesifund, swadesi training center dan swadesicraft, Ya, itu.... swadesi itu adalah ide, semangat dan spirit yang lahir dari analisa dan kritik terhadap masa lalu. Yang kemudian dinyalakan lewat pemeliharaan gagasan dalam akal budi sebagian manusia didalamnya, bukan dipelihara lewat kertas, stempel dan proposal kegiatan. 
Sedangkan aneka lembaga tersebut adalah eksperimentasi dan aksi untuk mengimplementasikan gagasan dan semangat swadesi tersebut.


Lalu apa hubungan swadesi dan lembaga-lembaga yang didirikan tersebut? Apakah lembaga tersebut adalah milik swadesi? Apakah aset-aset itu milik swadesi dan apakah para deklarator berhak atas lembaga dan aset-aset lembaga tersebut?

Secara organisatoris tak ada hubungannya antara serikat wirausahawan muda indonesia atau swadesi dengan lembaga-lembaga yang ada tersebut. Karena swadesi adalah sebuah semangat, ia bukan organisasi formal yang memilki struktur formal. Ia juga tak punya legalitas keorganisasian. Swadesi adalah sebuah semangat sebuah spirit dari sekelompok orang. Mereka yang tetap memelihara semangat dan gagasan swadesi tak pernah berhenti bergerak dan bereksperimentasi. Dan mereka yang tak rajin merawatnya memposisikan diri sebagai saksi. Tak ada paksaan untuk mengambil posisi apakah sebagai saksi atai sebagai pelaku. Nah, sebagian orang yang mengambil posisi sebagai pelaku mencoba mematerialisasikan gagasan dan semangatnya tersebut melalui aneka ragam organ. Penandanya adalah kata "swadesi" didepan atau di belakang organ yang didirikan oleh mereka yang mengambil posisi sebagai pelaku. 

Dalam sejarah pergerakan Islam di Nusantara, dapat dianalogikan bahwa swadesi adalah ajaran Islam sedangkan kesultanan yang tersebar di tanah air adalah lembaganya. Tak ada hubungan organisatoris antara Islam dengan kerajaan-kerajaan itu. Karena Islam bukanlah organisasi. Dan tak ada hubungan kepemilikan antara Islam dengan kerjaan-kerajaan itu atau satu kerajaan dengan kerajaan lainnya.

Demikian pula, tak ada hubungan antara swadesi dengan swadesiprinting dan tak ada hubungan struktural antara swadesiprinting dengan pemadam kebakaran swadesi borneo. Masing-masing ada pendirinya dan pengelolanya sendiri, masing-masing ada sultan nya sendiri.

Jika kelak para deklarator yang saat ini mengambil posisi sebagai saksi lalu ingin pula menjadi pelaku dengan mendirikan lembaga bisnis maupun lembaga non bisnis bagaimana? Ya justru itulah yang diharapkan. Semakin banyak yang turut serta menjadi pelaku yang membawa sprit swadesi, maka akan semakin banyak dan luas pula aksi yang dilakukan. Dan jika semakin banyak organisasi, maka akan semakin banyak pula 'sultan-sultan' baru yang melakukan pergerakan yang selaras dengan potensi uniknya sebagai manusia. Tapi tak ada paksaan apapun untuk melakukan sesuatu. Karena kami yakin walaupun kita beraktivitas didalam organisasi yang tak berlabel "swadesi", namun spirit dan semangat swadesi yang anti ketergantungan, yang anti apatis dan anti memperkaya diri sendiri akan selalu hidup dalam keseharian kita.

Menjawab Swadesi itu apa I

Okeh: Beni Sulastiyo/ Koordinator Swadesi


Swadesi itu apa sih? Katanya organisasi pengusaha, kok ada bisnis digital printing juga? Katanya organisasinya para pebisnis, kok ada pemadam kebakaran juga? Lalu apa hubungannya dengan SwadesiFund, SwadesiCraft, Swadesi Training Center? Pertanyaan itu sering diajukan oleh teman-teman yang bertandang ke swadesiprinting atau pada saat berjumpa di forum-forum diskusi. Kalau ditanya seperti itu biasanya saya menjawab singkat, swadesi itu serikat wirausahawan muda yang berjiwa mandiri, peduli dan suka berbagi. Setelah itu saya tak pernah menjelaskan secara detail apa saja yang dilakukan Swadesi.
Saya tak bisa menjawab karena swadesi memang belum pernah menyimpulkan pola gerakan karena lebih tertarik untuk kerjq dan kerja serta bereksperimentasi dalam membangun kemandirian dan kepedulian secara akseleratif.


Hingga suatu ketika ada seorang wartawan sebuah majalah yang mewawancarai saya dengan menanyakan berbagai hal tentang Swadesi secara kritis. Pusing juga menjawabnya. Karena Swadesi tak pernah merancang program, tak pernah rapat, tak punya AD/Art, tak ada alamat tetap, bahkan kop surat dan stempel aja ga ada. Kalau dijaman Soeharto sudah pas kalau disebut OTB, organisasi tanpa bentuk. Dan setelah saya beritahu apa adanya tentang ke OTB an swadesi, justru wartawan majalah itu yang gantian menjadi pusing.

Mereka pusing kenapa tak ada apa-apa tapi punya apa-apa. Mereka bingung ada berbagai organisasi yang berbau swadesi. Ada swadesiprinting yang mengelola aset lumayan besar lengkap dengan lebih dari 20 orang pekerja di dalamnya serta berlokasi di kawasan cukup strategis di pusat Kota Pontianak. Ada Pemadam Kebakaran lengkap dengan mobil, motor, pompa, sekretariat tetap, dan 30-an orang relawannya. Juga ada SwadesiFund dan Swadesi Training Centre dan segudang kegiatan pelatihan dan bantuan sosial.
Jadi Swadesi itu apaan sih? Heheee terus terang saya juga bingung untuk menjelaskannya. Bingung harus mulai dari mana. Tapi karena sudah cukup banyak yang bertanya, saya pikir sudah saatnya memberikan penjelasan.

Dan karena jawabannya akan sangat panjang karena akan meliputi gagasan dan aksi, maka setelah 3 tahun berdiri, sayapun berinisiatif membuat blog ini. Dari blog ini saya harap dapat menjawab pertanyaan tersebut dan mulai mempublikasikan kegiatan swadesi yang tak pernah diungkapkan ke masyarakat.


Swadesi adalah spirit
Walaupun namanya sama dengan gerakan Mahatma Gandhi di India, namun swadesi yang kami deklarasikan di Pontianak 3 tahun yang lalu ini tak ada kaitan dengan organisasi apapun di negerinya Mahatma Gandhi. Bahwa gerakan Mahatma Gandhi yang anti kekerasan, yang hidup sederhana serta berjuang lewat pendidikan massa secara konsisten, telah memberikan inspirasi adalah iya.


Nah, inspirasi kedua tentang Swadesi adalah kegelisahan 33 orang rekan yang merasakan bahwa gerakan reformasi belum mampu membawa perbaikan yang signifikan dalam hal pendistribusian kekayaan nusantara. Kekayaan nusantara masih terakumulasi pada beberapa orang dan beberapa negara neo-imperalis. Sementara para para politisi yang mengelola bangsa ini hidup tak mandiri dan berada di bawah ketiak antek-antek kapitalis dunia. Mereka bergotong royong membangun bangsa ini menjadi bangsa yang tak mampu mandiri, lemah, dan tak hirau dengan keadaan rakyatnya. Sistem demokrasi Indonesia hasil gotong royong pengusaha yang tiba-tiba jadi politisi misalnya, justru membuat institusi politik menjadi lemah. Pemilu yang penuh dengan aksi suap secara massif, politisi senayan yang lebih peduli dengan  lobby-lobby proyek ketimbang memikirkan masa depan bangsa, lembaga penegakan hukum yang sering membiarkan pelanggaran jukim dideapan mata, dan partai politik yang tak pernah hirau dengan kualitas kader partai.
Sementara asosiasi-asosiasi ekonomi/ bisnis yang ada saat ini, sibuk mengurus kepentingan sendiri dan tak pernah peduli dengan masa depan pasukan pengusaha bangsa di masa yang akan datang. Organisasi-organisasi para pengusaha itu bagaikan gedung tinggi yang menjulang tapi sebenarnya reot, keropos dan nyaris roboh. Gerakannya formalis, para pengurusnya hanya sibuk pada saat moment pergantian pengurus saja. Lalu, organ gerakan pemuda dan gerakan mahasiswa juga tak bisa diharaplan. Mereka mati suri. Tak punya issue yang tajam serta bingung mau berbuat apa.


Dalam sejarah pra-Indonesia dan sejarah perintisan kemerdekaan, juatru pengusahalah menjadi pionirnya. Mereka adalah para saudagar yang berimigrasi secara sengaja ke Nusantara lalu mengorganisir diri menjadi sekelompok pengusaha bergagasan yang saling bekerja sama. Dan dalam waktu yang tak terlampau lama para pengusaha yang cerdas dan berani itu bermetamorfosis menjadi institusi politik dalam bentuk kesultanan di berbagai pelosok nusantara. Yang menarik mereka ini bukanlah pengusaha yang pragmatis seperti yang kita jumpai di jaman ini. Mereka adalah pengusaha yang sangat memahami dan menghayati perkembangan sosial budaya. Mereka mampu meng-create peradaban demgam aneka karya budaya bernilai tinggi yang dapat kita saksikan hingga detik ini.


Waktu berlalu, jaman berganti, tantanganpun berubah. Perdagangan global mulai ramai setelah ditemukannya mesin uap. Era kolonialisasipun dimulai. Para pengusaha eropa yang berjiwa pragmatis, ekaploitatif dan tak mau menyatu dengan kearifan budaya lokal mulai membuat ulah. Ambisi penguasaan sumber daya alam mengantarkan mereka menjadi sekelompok pengusaha yang rakus. Mereka berusaha mendominasi perekenomian nusantara. Politik hegemoni pun dijalankan. Para bangsawan kerajaan di nusantara mulai resah. Perlawananpun dilakukan lewat fisik dan lewat budaya. Perlawanan budaya dilakukan dengan mendidik generasi penerus mereka dengan pendidikan yang berkualitas. Hasil dari perlawanan budaya itu menghasilkan generasi pengusaha baru.

Dan begitu dominasi para kapitalis global mulai memunculkan masalah, merekapun mengorganisir diri. Lalu munculah organisasi pengusaha yang cara berpikirnya sudah tak bersekat dalam partisi kesultanan, tapi lebih kepada penyatuan identitas sosial budaya. Singkat cerita terbentuklah organisasi pengusaha yaitu Serikat Islam (1905) yang dikemudian hari turut memicu berdirinya organ-organ kritis lainnya seperti Boedi Oetomo (1908), Serikat Dagang Islam (1911), Muhammadiyah (1912), dsb.

Pada saat mereka berada dalam sebuah dominasi dan hegemoni kekuatan kolonial global yang sangat tangguh, mengapa mereka tidak memilih mendirikan partai politik, lembaga swadaya masyarakat, atau pasukan perang?Mengapa justru sebuah perserikatan pengusaha?


Bisa jadi mereka lebih memilih bergerak melalui organisasi bisnis karena alasan untuk menjaga 
Kemandirian. Bisa jadi pula atas pertimbangan keleluasaan bergerak dan kemampuan untuk memiliki dan mendistribusikan kekayaan secata tak terbatas untuk kemajuan peradaban. Faktor-faktor inilah yang menjadi keunggulan organisasi bisnis dibandingkan organisasi non bisnis.


Analoginya, jika Anda seorang aktivis LSM, lalu memiliki hubungan baik dengan politisi lokal, maka akan terjadi pertentangan batin dalam hati Anda dan lingkungan Andapun akan mengkritisi Anda dengan kejam. Tapi jika Anda adalah seorang pengusaha tentu dilema tersebut tak bakal terjadi. Demikian pula jika Anda adalah seorang penggerak sosial, atau wartawan atau politisi lalu memiliki aset yang banyak, maka aset itu akan menjadi bumerang bagi Anda. Akan banyak orang yang mengaggap apa yang Anda raih adalah sebuah ketidakwajaran. Hal ini tak akan terjadi jika Anda adalah seorang pengusaha.

Oleh karena itu organisasi bisnis adalah pilihan terbaik untuk melakukan kerja-kerja politik tanpa harus menjadi politisi, pilihan yang taktis untuk melakukan kerja-kerja sosial tanpa harus menjadi aktivis sosial, lembaga yang lincah untuk mengembangkan pola dan metode pemecahan masalah tanpa harus menjadi seorang akademisi. Dan oleh karena itu pula, tidak hanya kaum saudagar dari negeri seberang yang lebih memilih organisasi biania dalam merintis pergerakannya,  bahkan kaum imperialis Belanda pun memulai kerja politisnya melalui organisasi dagang yang populer disebut VOC.

Masalahnya saat ini organisasi bisnis mana yang berkesadaran sejarah, mau serta mampu melakukan kerja-kerja jangka panjanh atau bahkan berani melakukan perlawanan budaya seperti yang dilakukan oleh paea bangsawan pra perintis kemerdekaan dan seperti para pengusaha perintis kemerdekaan (SI dan SDI) ? Mungkin ada tapi tak banyak. Tapi bisa jadi juga tak ada, karena hampir semua pengusaha lokal lebih senang bertemu dengan politisi untuk mendiskusikan proyek daripada bertemu dengan para mahasiswa untuk mendiskusikan sejauh mana kemampuan mereka menyerap dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Bersambung....

Hidup dari Kertas



Oleh Beni Sulastiyo

Beberapa hari yang lalu saya terlibat obrolan pendek dengan Mizar Bazarvio di Ruangan Herri Mustamin, salah seorang wakil Ketua DPRD Kota Pontianak. Ia adalah seorang sastrawan sekaligus wartawan Senor di Kalimantan Barat. Tidak ada topik khusus dari obrolan itu. Kami hanya saling memperkuat tesis bahwa kita bisa hidup dengan kertas.

Kertas yang saya maksud bukan kertas yang bergambar pahlawan nasional dan memiliki serat pengaman di bagian tengahnya dan akan terlihat jelas pada saat saat diterawang. Tapi kertas sungguhan. Tempat menuangkan gagasan, ide, karya, puisi, dan berbagai macam tulisan.

Saya sendiri bisa tetap bisa melanjutkan hidup hingga hari ini karena kertas. Walaupun jauh dari predikat sukses, tapi saya tetap bisa mandiri hingga hari ini. Mandiri karena tak pernah menjual harga diri hanya karena untuk mendapatkan materi.

Dari kertas itu saya menuangkan gagasan saya menjadi tulisan ilmiah yang kemudian dipresentasikan melalui seminar, lalu sayapun bisa mendapatkan beberapa lembar uang dari kertas itu. Dari kertas itu saya juga sering menyajikan berbagai usulan desain spanduk, baliho, pamflet, sticker, T-shirt dan media komunikasi visual lainnya. Jika desain diterima berarti saya akan mendapatkan uang dari proses produksinya.

Jika hati dan fikiran sedang mood, dan waktu agak senggang, saya tuangkan gagasan event dan program ke dalam kertas itu. Lalu di atas kertas yang agak tebal dan mengkilat saya cetakan desain kover yang menarik. Jadilah ia proposal.Jika gagasan event yang tertuang di kertas itu diterima oleh para sponsor, berarti mengalirlah uang ke kantong saya dan teman-teman saya.

Entah berapa ratus juta rupiah kertas-kertas itu telah menghasilkan uang bagi saya dan teman-teman saya. Kalau dihitung sejak tahun 2000, saat saya baru menyelesaikan kuliah dan pulang ke Pontianak Kota kelahiran saya ini, mungkin bisa Milyaran nilainya. Bahkan baru-baru ini beberapa lembar kertas yang berisi gagasan dan konsep, berhasil membukukan kegiatan di bidang komunikasi senilai lebih dari 500 juta. Luar biasa sekali kertas ini!

Pay Jarot Sujarwo, atau yang biasa di panggil PJS adalah salah seorang kawan saya yang berhasil menjelajah benua Eropa, karena kertas. Dulunya saya pernah sedikit membantunya. Saya menyarankan padanya untuk menerbitkan buku. Namun setelah dianalisis, di Kalbar ini sangat sulit menjual buku. Lalu saya memberinya saran agar ia membuat buku kecil-kecil untuk menekan biaya produksi sehingga harganya dapat lebih terjangkau oleh pasar. Distribusinyapun dapat dilakukan secara door to door. Saran sederhana ini ia lakoni. Karena semangatnya, sayapun ikut bersemangat untuk membantu sastrawan karang ini. Dari mulai melayout tulisannya, mendesain kover, hingga mencetaknya. Saya agak lupa dengan judul buku perdananya itu, tapi kalau tidak salah buku itu berjudul “0 Derajat”. Hingga hari ini ia terus menulis dan menulis. Ia menulis dan menulis apapun yang ia ingin tulis, lalu membukukannya serta menjualnya kepada kawan-kawannya tanpa memperdulikan apapun kata orang-orang di sekitarnya. Belasan buku dan entah berapa ribu eksamplar buku yang telah berhasil ia jual. Keberhasilannya menerbitkan buku, jauh mengungguli para sastrawan bahkan yang paling senior sekalipun di Kalbar ini. Kertas telah menjadi instrument bagi pemuda Kampung Arang ini untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Cerita sukses dari selembar kertas juga terjadi pada Bing Purwanto. Lelaki bertato ini adalah salah satu kawan saya yang katanya sudah berhasil hidup mapan di Kota Bali. Ia adalah seorang pelukis yang sangat berbakat. Ia menuangkan imaginasinya melalui kertas-kertas HVS, kertas karton atau kertas apa saja dengan coretan pinsil, pena atau kuas. Temanya juga sangat unik. Yang paling menonjol adalah lukisan tentang kehidupan khas masyarakat Dayak. Pernah suatu ketika di tahun 2003, lembaga kami, yaitu Yayasan Bidar, yang dipimpin oleh Indra Ae’,mengadakan pameran karikatur di Museum Kalbar. Acara itu mengundang GM Sidharta, kartunis kelas dunia yang saat ini menjadi kartunis harian Kompas. Ia pun mengomentari lukisan Bing Kalis, demikian nama bekennya itu, dengan komentar yang membuat hidung Seniman dari daerah Kalis, Kapuas Hulu itu kembang kempis. Sang Maestro mengatakan di Harian Kompas bahwa karya-karya Bing di kertas ukuran AO yang dipamerkan di museum itu sebagai sebuah karya drawing yang nyaris sempurna. Akibat komentar sang Maestro, Bing Kalis yang lucu dan apa adanya itu mendadak terkenal. Ia pun sepertinya tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk hijrah dan menjalankan profesi keseinamannyan di Bali, surganya para seniman. Bagi Bing, kertas telah menjadi bagian terpenting dari kehidupannya.

Lain PJS dan Bing Kalis, lain pula Pak Tabrani Hadi. Pak Tabrani Hadi adalah pendiri sekaligus pemilik Surat Kabar Harian terbesar di Kalbar, Pontianak Post. Pria ini juga berhasil hidup dan menghidupi orang banyak dari kertas. Puluhan tahun, pria penuh semangat yang sebelum terkena stroke sering saya jadikan sumber pengetahuan ini, mengolah kertas hingga menjadi koran dan meyebarkannya setiap hari hingga ke pelosok Kalimantan Barat. Berkat semangat dan kecintaannya pada dunia jurnalistik, kertas-kertas itu hingga hari ini tidak hanya mampu menghidupi dirinya, tapi juga ratusan orang yang menggantungkan hidup dalam perusahaannya.

Menjadikan kertas sebagai sumber penghidupan, juga terjadi pada rekan-rekan saya yang lain. Ada Roffi Faturrahman, yang telah menghasilkan, mungkin belasan Milyar selama ia melakoni profesi sebagai konsultan dan arsitektur. Gagasannya dan karya desainnya dalam lembaran-lembaran kertas, telah menyebar menjadi kebijakan pemerintah dan gedung-gedung indah di Kalimantan Barat. Demikian pula dengan Hermayani, yang saat ini menjadi aktivis lingkungan di WWF. Gagasan-gagsan cemerlangnya untuk menjaga kesinambungan lingkungan hidup mampu meyakinkan funding dunia untuk mengucurkan dana dan melindungi lingkungan hidup di Kalbar. Kertas telah berfungsi tidak sekedar sebagai sumber penghidupan, namun juga instrument penting bagi terus bergeraknya peradaban. 

Kertas, seperti juga benda lainnya di sekitar kita, hanyalah sebuah alat. Alat yang tidak akan berguna jika kita tahu tahu cara memfungsikannya. Kertas hanyalah media untuk menyampaikan pesan dan kesan. Pesan dan kesan di sampaikan melalui kata-kata yang bersumber dari akal dan budi manusia. Tanpa akal dan budi, kertas tetaplah benda mati yang tak berarti dan tak akan menghasilkan apa-apa.

Sebuah tulisan 14 Mei 2010 pukul 12:01