Oleh: Beni Sulastiyo/ Koordinator Swadesi
Analisis dan kritik terhadap masa lalu selalu menjadi inspirasi bagi desain pergerakan di masa yang akan datang. Gagasan dan semangatnya sudah ada, tapi metodenya seperti apa? Pertanyaan inilah yang harus dijawab. Dijawab bukan sekedar lewat kertas dan meja diakusi. Tapi lewat berbagai aksi dan eksperimentasi.
Nah inilah yang bisa menjelaskan perbedaan apa itu swadesi dan apa itu pemadam kebakaran swadesi borneo, apa itu swadesi dan apa itu swadesiprinting, apa itu swadesi dan apapula swadesifund, swadesi training center dan swadesicraft, Ya, itu.... swadesi itu adalah ide, semangat dan spirit yang lahir dari analisa dan kritik terhadap masa lalu. Yang kemudian dinyalakan lewat pemeliharaan gagasan dalam akal budi sebagian manusia didalamnya, bukan dipelihara lewat kertas, stempel dan proposal kegiatan.
Sedangkan aneka lembaga tersebut adalah eksperimentasi dan aksi untuk mengimplementasikan gagasan dan semangat swadesi tersebut.
Lalu apa hubungan swadesi dan lembaga-lembaga yang didirikan tersebut? Apakah lembaga tersebut adalah milik swadesi? Apakah aset-aset itu milik swadesi dan apakah para deklarator berhak atas lembaga dan aset-aset lembaga tersebut?
Secara organisatoris tak ada hubungannya antara serikat wirausahawan muda indonesia atau swadesi dengan lembaga-lembaga yang ada tersebut. Karena swadesi adalah sebuah semangat, ia bukan organisasi formal yang memilki struktur formal. Ia juga tak punya legalitas keorganisasian. Swadesi adalah sebuah semangat sebuah spirit dari sekelompok orang. Mereka yang tetap memelihara semangat dan gagasan swadesi tak pernah berhenti bergerak dan bereksperimentasi. Dan mereka yang tak rajin merawatnya memposisikan diri sebagai saksi. Tak ada paksaan untuk mengambil posisi apakah sebagai saksi atai sebagai pelaku. Nah, sebagian orang yang mengambil posisi sebagai pelaku mencoba mematerialisasikan gagasan dan semangatnya tersebut melalui aneka ragam organ. Penandanya adalah kata "swadesi" didepan atau di belakang organ yang didirikan oleh mereka yang mengambil posisi sebagai pelaku.
Dalam sejarah pergerakan Islam di Nusantara, dapat dianalogikan bahwa swadesi adalah ajaran Islam sedangkan kesultanan yang tersebar di tanah air adalah lembaganya. Tak ada hubungan organisatoris antara Islam dengan kerajaan-kerajaan itu. Karena Islam bukanlah organisasi. Dan tak ada hubungan kepemilikan antara Islam dengan kerjaan-kerajaan itu atau satu kerajaan dengan kerajaan lainnya.
Demikian pula, tak ada hubungan antara swadesi dengan swadesiprinting dan tak ada hubungan struktural antara swadesiprinting dengan pemadam kebakaran swadesi borneo. Masing-masing ada pendirinya dan pengelolanya sendiri, masing-masing ada sultan nya sendiri.
Jika kelak para deklarator yang saat ini mengambil posisi sebagai saksi lalu ingin pula menjadi pelaku dengan mendirikan lembaga bisnis maupun lembaga non bisnis bagaimana? Ya justru itulah yang diharapkan. Semakin banyak yang turut serta menjadi pelaku yang membawa sprit swadesi, maka akan semakin banyak dan luas pula aksi yang dilakukan. Dan jika semakin banyak organisasi, maka akan semakin banyak pula 'sultan-sultan' baru yang melakukan pergerakan yang selaras dengan potensi uniknya sebagai manusia. Tapi tak ada paksaan apapun untuk melakukan sesuatu. Karena kami yakin walaupun kita beraktivitas didalam organisasi yang tak berlabel "swadesi", namun spirit dan semangat swadesi yang anti ketergantungan, yang anti apatis dan anti memperkaya diri sendiri akan selalu hidup dalam keseharian kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar