Sabtu, 04 Januari 2014

Hidup dari Kertas



Oleh Beni Sulastiyo

Beberapa hari yang lalu saya terlibat obrolan pendek dengan Mizar Bazarvio di Ruangan Herri Mustamin, salah seorang wakil Ketua DPRD Kota Pontianak. Ia adalah seorang sastrawan sekaligus wartawan Senor di Kalimantan Barat. Tidak ada topik khusus dari obrolan itu. Kami hanya saling memperkuat tesis bahwa kita bisa hidup dengan kertas.

Kertas yang saya maksud bukan kertas yang bergambar pahlawan nasional dan memiliki serat pengaman di bagian tengahnya dan akan terlihat jelas pada saat saat diterawang. Tapi kertas sungguhan. Tempat menuangkan gagasan, ide, karya, puisi, dan berbagai macam tulisan.

Saya sendiri bisa tetap bisa melanjutkan hidup hingga hari ini karena kertas. Walaupun jauh dari predikat sukses, tapi saya tetap bisa mandiri hingga hari ini. Mandiri karena tak pernah menjual harga diri hanya karena untuk mendapatkan materi.

Dari kertas itu saya menuangkan gagasan saya menjadi tulisan ilmiah yang kemudian dipresentasikan melalui seminar, lalu sayapun bisa mendapatkan beberapa lembar uang dari kertas itu. Dari kertas itu saya juga sering menyajikan berbagai usulan desain spanduk, baliho, pamflet, sticker, T-shirt dan media komunikasi visual lainnya. Jika desain diterima berarti saya akan mendapatkan uang dari proses produksinya.

Jika hati dan fikiran sedang mood, dan waktu agak senggang, saya tuangkan gagasan event dan program ke dalam kertas itu. Lalu di atas kertas yang agak tebal dan mengkilat saya cetakan desain kover yang menarik. Jadilah ia proposal.Jika gagasan event yang tertuang di kertas itu diterima oleh para sponsor, berarti mengalirlah uang ke kantong saya dan teman-teman saya.

Entah berapa ratus juta rupiah kertas-kertas itu telah menghasilkan uang bagi saya dan teman-teman saya. Kalau dihitung sejak tahun 2000, saat saya baru menyelesaikan kuliah dan pulang ke Pontianak Kota kelahiran saya ini, mungkin bisa Milyaran nilainya. Bahkan baru-baru ini beberapa lembar kertas yang berisi gagasan dan konsep, berhasil membukukan kegiatan di bidang komunikasi senilai lebih dari 500 juta. Luar biasa sekali kertas ini!

Pay Jarot Sujarwo, atau yang biasa di panggil PJS adalah salah seorang kawan saya yang berhasil menjelajah benua Eropa, karena kertas. Dulunya saya pernah sedikit membantunya. Saya menyarankan padanya untuk menerbitkan buku. Namun setelah dianalisis, di Kalbar ini sangat sulit menjual buku. Lalu saya memberinya saran agar ia membuat buku kecil-kecil untuk menekan biaya produksi sehingga harganya dapat lebih terjangkau oleh pasar. Distribusinyapun dapat dilakukan secara door to door. Saran sederhana ini ia lakoni. Karena semangatnya, sayapun ikut bersemangat untuk membantu sastrawan karang ini. Dari mulai melayout tulisannya, mendesain kover, hingga mencetaknya. Saya agak lupa dengan judul buku perdananya itu, tapi kalau tidak salah buku itu berjudul “0 Derajat”. Hingga hari ini ia terus menulis dan menulis. Ia menulis dan menulis apapun yang ia ingin tulis, lalu membukukannya serta menjualnya kepada kawan-kawannya tanpa memperdulikan apapun kata orang-orang di sekitarnya. Belasan buku dan entah berapa ribu eksamplar buku yang telah berhasil ia jual. Keberhasilannya menerbitkan buku, jauh mengungguli para sastrawan bahkan yang paling senior sekalipun di Kalbar ini. Kertas telah menjadi instrument bagi pemuda Kampung Arang ini untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Cerita sukses dari selembar kertas juga terjadi pada Bing Purwanto. Lelaki bertato ini adalah salah satu kawan saya yang katanya sudah berhasil hidup mapan di Kota Bali. Ia adalah seorang pelukis yang sangat berbakat. Ia menuangkan imaginasinya melalui kertas-kertas HVS, kertas karton atau kertas apa saja dengan coretan pinsil, pena atau kuas. Temanya juga sangat unik. Yang paling menonjol adalah lukisan tentang kehidupan khas masyarakat Dayak. Pernah suatu ketika di tahun 2003, lembaga kami, yaitu Yayasan Bidar, yang dipimpin oleh Indra Ae’,mengadakan pameran karikatur di Museum Kalbar. Acara itu mengundang GM Sidharta, kartunis kelas dunia yang saat ini menjadi kartunis harian Kompas. Ia pun mengomentari lukisan Bing Kalis, demikian nama bekennya itu, dengan komentar yang membuat hidung Seniman dari daerah Kalis, Kapuas Hulu itu kembang kempis. Sang Maestro mengatakan di Harian Kompas bahwa karya-karya Bing di kertas ukuran AO yang dipamerkan di museum itu sebagai sebuah karya drawing yang nyaris sempurna. Akibat komentar sang Maestro, Bing Kalis yang lucu dan apa adanya itu mendadak terkenal. Ia pun sepertinya tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk hijrah dan menjalankan profesi keseinamannyan di Bali, surganya para seniman. Bagi Bing, kertas telah menjadi bagian terpenting dari kehidupannya.

Lain PJS dan Bing Kalis, lain pula Pak Tabrani Hadi. Pak Tabrani Hadi adalah pendiri sekaligus pemilik Surat Kabar Harian terbesar di Kalbar, Pontianak Post. Pria ini juga berhasil hidup dan menghidupi orang banyak dari kertas. Puluhan tahun, pria penuh semangat yang sebelum terkena stroke sering saya jadikan sumber pengetahuan ini, mengolah kertas hingga menjadi koran dan meyebarkannya setiap hari hingga ke pelosok Kalimantan Barat. Berkat semangat dan kecintaannya pada dunia jurnalistik, kertas-kertas itu hingga hari ini tidak hanya mampu menghidupi dirinya, tapi juga ratusan orang yang menggantungkan hidup dalam perusahaannya.

Menjadikan kertas sebagai sumber penghidupan, juga terjadi pada rekan-rekan saya yang lain. Ada Roffi Faturrahman, yang telah menghasilkan, mungkin belasan Milyar selama ia melakoni profesi sebagai konsultan dan arsitektur. Gagasannya dan karya desainnya dalam lembaran-lembaran kertas, telah menyebar menjadi kebijakan pemerintah dan gedung-gedung indah di Kalimantan Barat. Demikian pula dengan Hermayani, yang saat ini menjadi aktivis lingkungan di WWF. Gagasan-gagsan cemerlangnya untuk menjaga kesinambungan lingkungan hidup mampu meyakinkan funding dunia untuk mengucurkan dana dan melindungi lingkungan hidup di Kalbar. Kertas telah berfungsi tidak sekedar sebagai sumber penghidupan, namun juga instrument penting bagi terus bergeraknya peradaban. 

Kertas, seperti juga benda lainnya di sekitar kita, hanyalah sebuah alat. Alat yang tidak akan berguna jika kita tahu tahu cara memfungsikannya. Kertas hanyalah media untuk menyampaikan pesan dan kesan. Pesan dan kesan di sampaikan melalui kata-kata yang bersumber dari akal dan budi manusia. Tanpa akal dan budi, kertas tetaplah benda mati yang tak berarti dan tak akan menghasilkan apa-apa.

Sebuah tulisan 14 Mei 2010 pukul 12:01

Tidak ada komentar:

Posting Komentar