Okeh: Beni Sulastiyo/ Koordinator Swadesi
Swadesi itu apa sih? Katanya organisasi pengusaha, kok ada bisnis digital printing juga? Katanya organisasinya para pebisnis, kok ada pemadam kebakaran juga? Lalu apa hubungannya dengan SwadesiFund, SwadesiCraft, Swadesi Training Center? Pertanyaan itu sering diajukan oleh teman-teman yang bertandang ke swadesiprinting atau pada saat berjumpa di forum-forum diskusi. Kalau ditanya seperti itu biasanya saya menjawab singkat, swadesi itu serikat wirausahawan muda yang berjiwa mandiri, peduli dan suka berbagi. Setelah itu saya tak pernah menjelaskan secara detail apa saja yang dilakukan Swadesi.
Saya tak bisa menjawab karena swadesi memang belum pernah menyimpulkan pola gerakan karena lebih tertarik untuk kerjq dan kerja serta bereksperimentasi dalam membangun kemandirian dan kepedulian secara akseleratif.
Hingga suatu ketika ada seorang wartawan sebuah majalah yang mewawancarai saya dengan menanyakan berbagai hal tentang Swadesi secara kritis. Pusing juga menjawabnya. Karena Swadesi tak pernah merancang program, tak pernah rapat, tak punya AD/Art, tak ada alamat tetap, bahkan kop surat dan stempel aja ga ada. Kalau dijaman Soeharto sudah pas kalau disebut OTB, organisasi tanpa bentuk. Dan setelah saya beritahu apa adanya tentang ke OTB an swadesi, justru wartawan majalah itu yang gantian menjadi pusing.
Mereka pusing kenapa tak ada apa-apa tapi punya apa-apa. Mereka bingung ada berbagai organisasi yang berbau swadesi. Ada swadesiprinting yang mengelola aset lumayan besar lengkap dengan lebih dari 20 orang pekerja di dalamnya serta berlokasi di kawasan cukup strategis di pusat Kota Pontianak. Ada Pemadam Kebakaran lengkap dengan mobil, motor, pompa, sekretariat tetap, dan 30-an orang relawannya. Juga ada SwadesiFund dan Swadesi Training Centre dan segudang kegiatan pelatihan dan bantuan sosial.
Jadi Swadesi itu apaan sih? Heheee terus terang saya juga bingung untuk menjelaskannya. Bingung harus mulai dari mana. Tapi karena sudah cukup banyak yang bertanya, saya pikir sudah saatnya memberikan penjelasan.
Dan karena jawabannya akan sangat panjang karena akan meliputi gagasan dan aksi, maka setelah 3 tahun berdiri, sayapun berinisiatif membuat blog ini. Dari blog ini saya harap dapat menjawab pertanyaan tersebut dan mulai mempublikasikan kegiatan swadesi yang tak pernah diungkapkan ke masyarakat.
Swadesi adalah spirit
Walaupun namanya sama dengan gerakan Mahatma Gandhi di India, namun swadesi yang kami deklarasikan di Pontianak 3 tahun yang lalu ini tak ada kaitan dengan organisasi apapun di negerinya Mahatma Gandhi. Bahwa gerakan Mahatma Gandhi yang anti kekerasan, yang hidup sederhana serta berjuang lewat pendidikan massa secara konsisten, telah memberikan inspirasi adalah iya.
Nah, inspirasi kedua tentang Swadesi adalah kegelisahan 33 orang rekan yang merasakan bahwa gerakan reformasi belum mampu membawa perbaikan yang signifikan dalam hal pendistribusian kekayaan nusantara. Kekayaan nusantara masih terakumulasi pada beberapa orang dan beberapa negara neo-imperalis. Sementara para para politisi yang mengelola bangsa ini hidup tak mandiri dan berada di bawah ketiak antek-antek kapitalis dunia. Mereka bergotong royong membangun bangsa ini menjadi bangsa yang tak mampu mandiri, lemah, dan tak hirau dengan keadaan rakyatnya. Sistem demokrasi Indonesia hasil gotong royong pengusaha yang tiba-tiba jadi politisi misalnya, justru membuat institusi politik menjadi lemah. Pemilu yang penuh dengan aksi suap secara massif, politisi senayan yang lebih peduli dengan lobby-lobby proyek ketimbang memikirkan masa depan bangsa, lembaga penegakan hukum yang sering membiarkan pelanggaran jukim dideapan mata, dan partai politik yang tak pernah hirau dengan kualitas kader partai.
Sementara asosiasi-asosiasi ekonomi/ bisnis yang ada saat ini, sibuk mengurus kepentingan sendiri dan tak pernah peduli dengan masa depan pasukan pengusaha bangsa di masa yang akan datang. Organisasi-organisasi para pengusaha itu bagaikan gedung tinggi yang menjulang tapi sebenarnya reot, keropos dan nyaris roboh. Gerakannya formalis, para pengurusnya hanya sibuk pada saat moment pergantian pengurus saja. Lalu, organ gerakan pemuda dan gerakan mahasiswa juga tak bisa diharaplan. Mereka mati suri. Tak punya issue yang tajam serta bingung mau berbuat apa.
Dalam sejarah pra-Indonesia dan sejarah perintisan kemerdekaan, juatru pengusahalah menjadi pionirnya. Mereka adalah para saudagar yang berimigrasi secara sengaja ke Nusantara lalu mengorganisir diri menjadi sekelompok pengusaha bergagasan yang saling bekerja sama. Dan dalam waktu yang tak terlampau lama para pengusaha yang cerdas dan berani itu bermetamorfosis menjadi institusi politik dalam bentuk kesultanan di berbagai pelosok nusantara. Yang menarik mereka ini bukanlah pengusaha yang pragmatis seperti yang kita jumpai di jaman ini. Mereka adalah pengusaha yang sangat memahami dan menghayati perkembangan sosial budaya. Mereka mampu meng-create peradaban demgam aneka karya budaya bernilai tinggi yang dapat kita saksikan hingga detik ini.
Waktu berlalu, jaman berganti, tantanganpun berubah. Perdagangan global mulai ramai setelah ditemukannya mesin uap. Era kolonialisasipun dimulai. Para pengusaha eropa yang berjiwa pragmatis, ekaploitatif dan tak mau menyatu dengan kearifan budaya lokal mulai membuat ulah. Ambisi penguasaan sumber daya alam mengantarkan mereka menjadi sekelompok pengusaha yang rakus. Mereka berusaha mendominasi perekenomian nusantara. Politik hegemoni pun dijalankan. Para bangsawan kerajaan di nusantara mulai resah. Perlawananpun dilakukan lewat fisik dan lewat budaya. Perlawanan budaya dilakukan dengan mendidik generasi penerus mereka dengan pendidikan yang berkualitas. Hasil dari perlawanan budaya itu menghasilkan generasi pengusaha baru.
Dan begitu dominasi para kapitalis global mulai memunculkan masalah, merekapun mengorganisir diri. Lalu munculah organisasi pengusaha yang cara berpikirnya sudah tak bersekat dalam partisi kesultanan, tapi lebih kepada penyatuan identitas sosial budaya. Singkat cerita terbentuklah organisasi pengusaha yaitu Serikat Islam (1905) yang dikemudian hari turut memicu berdirinya organ-organ kritis lainnya seperti Boedi Oetomo (1908), Serikat Dagang Islam (1911), Muhammadiyah (1912), dsb.
Pada saat mereka berada dalam sebuah dominasi dan hegemoni kekuatan kolonial global yang sangat tangguh, mengapa mereka tidak memilih mendirikan partai politik, lembaga swadaya masyarakat, atau pasukan perang?Mengapa justru sebuah perserikatan pengusaha?
Bisa jadi mereka lebih memilih bergerak melalui organisasi bisnis karena alasan untuk menjaga
Kemandirian. Bisa jadi pula atas pertimbangan keleluasaan bergerak dan kemampuan untuk memiliki dan mendistribusikan kekayaan secata tak terbatas untuk kemajuan peradaban. Faktor-faktor inilah yang menjadi keunggulan organisasi bisnis dibandingkan organisasi non bisnis.
Analoginya, jika Anda seorang aktivis LSM, lalu memiliki hubungan baik dengan politisi lokal, maka akan terjadi pertentangan batin dalam hati Anda dan lingkungan Andapun akan mengkritisi Anda dengan kejam. Tapi jika Anda adalah seorang pengusaha tentu dilema tersebut tak bakal terjadi. Demikian pula jika Anda adalah seorang penggerak sosial, atau wartawan atau politisi lalu memiliki aset yang banyak, maka aset itu akan menjadi bumerang bagi Anda. Akan banyak orang yang mengaggap apa yang Anda raih adalah sebuah ketidakwajaran. Hal ini tak akan terjadi jika Anda adalah seorang pengusaha.
Oleh karena itu organisasi bisnis adalah pilihan terbaik untuk melakukan kerja-kerja politik tanpa harus menjadi politisi, pilihan yang taktis untuk melakukan kerja-kerja sosial tanpa harus menjadi aktivis sosial, lembaga yang lincah untuk mengembangkan pola dan metode pemecahan masalah tanpa harus menjadi seorang akademisi. Dan oleh karena itu pula, tidak hanya kaum saudagar dari negeri seberang yang lebih memilih organisasi biania dalam merintis pergerakannya, bahkan kaum imperialis Belanda pun memulai kerja politisnya melalui organisasi dagang yang populer disebut VOC.
Masalahnya saat ini organisasi bisnis mana yang berkesadaran sejarah, mau serta mampu melakukan kerja-kerja jangka panjanh atau bahkan berani melakukan perlawanan budaya seperti yang dilakukan oleh paea bangsawan pra perintis kemerdekaan dan seperti para pengusaha perintis kemerdekaan (SI dan SDI) ? Mungkin ada tapi tak banyak. Tapi bisa jadi juga tak ada, karena hampir semua pengusaha lokal lebih senang bertemu dengan politisi untuk mendiskusikan proyek daripada bertemu dengan para mahasiswa untuk mendiskusikan sejauh mana kemampuan mereka menyerap dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar