Oleh: Beni Sulastiyo/ koordinator Swadesi
Pada tulisan sebelumnya saya sering menyampaikan istilah eksperimentasi gerakan. Apa yang kami maksud dengan ekaperimentasi gerakan, lalu apa saja yang sudah dieksperimentasikan?
Sejak gelombang reformasi mencapai puncaknya, tak ada lagi model pergerakan baru. Semua aktivis pergerakan menyebar kemana-mana. Ada yang merapat ke lingkaran politik elit. Ada yang beraktivitas di NGO, menjadi wartawan/ penulis, akademisi, peneliti, menjadi profesional diinstasi swasta, ada juga yang menjadi pengusaha. Aktivitas mereka lebih bersifat pribadi. Sementara kantong-kantong pergerakan mahasiswa kembali ke tradisi lama yaitu diskusi serta beraktivitas di lembaga intrakampus.
Tak ada lagi yang mampu mendesain sebuah gerakan perubahan yang terorganisir. Semua seakan telah digantikan perannya oleh elit politik partai. Beberapa mantan aktivis berupaya mendorong perubahan lewat issue-issue lokal yang spesifik seperti kerusakan lingkungan, penyerobotan tanah, dan penggusuran PKL. Sayangnya ikatan antara lembaga dan masyarakat tersebut berkarakter sangat cair. Merekapum sering kehabisan energi saat terpaksa membuat issue baru yang selaras dengan program lembaga donor.
Harus ada metode gerakan baru yang dapat menjaga gagasan masa lalu. Ia tak boleh berafiliasi dengan organ politik, tak boleh tergantung dengan lembaga donor baik swasta maupun pemerintah, tak boleh mengangkat issue-issue politik, dan tidak menggunakan aksi massa untuk menyampaikan opininya karena publik sudah membencinya.
Akhirnya digagaslah organ pergerakan yang diberi nama swadesi, serikat wirausahawan muda indonesia pada akhir desember tahun 2010. Namun, perkumpulan itu belum memiliki metode gerakan. Sebagai sebuah gerakan baru, metode gerakan pun mestinya harus baru. Lalu apa? Tak tahulah. Yang jelas kita perlu mencoba. Tidak ada yang tidak boleh, semua boleh. Harapannya adalah supaya muncul ide-ide unik yang selaras dan relevan dengan tuntutan dan tantangan yang dihadapi. Tak usah direncanakan harus seperti ini dan seperti itu. Nah kegiatan coba-coba metode gerakan inilah yang kami istilahkan eksperimentasi gerakan.
Eksperimentasi yang dilakukan tak hanya aksi saja tapi prinsip bergerak itu sendiri. Walaupun belum tampak jelas pola gerakannya, namun untuk sementara waktu rel pergerakan mengarah kepada 3 tema yaitu kemandirian, kepedulian, dan semangat berbagi. Metodenya adalah membentuk lembaga bisnis, sosial dan pendidikan dengan tiga tema tadi. Kenapa hanya 3 tema? Karena hanya tiga tema itu saja yang dilakikan oleh teman-teman selama ini. Yang lainnya ada juga tapi tak terlalu concern.
Berikut beberapa ide dan metode gerakan yang telah dieksperimentasikan.
Pengetahuan menghasilkan materi
Dari berbagai eksperimentasi dan aksi kami meyakini bahwa pengetahuanlah yang menghasilkan materi. Bukan sebaliknya. Artinya kita tak perlu memulai aktivitas bisnis dan sosial dengan materi. Tapi semua harus dimulai dari pengetahuan. Jadi tak ada alasan untuk tidak bergerak jika kita tak memiliki modal awal material seperti alat, uang, atau ruang.
Berdirinya swadesiprinting misalnya bukan karena adanya alat cetak bernilai ratusan juta rupiah, bukan pula karena adanya uang dan ruang. Akan tetapi didirikan karena para pendirinya memilki pengetahuan yang memadai untuk megembangkan bisnis ini, lalu pelopornya yaitu Romadi Haryono, mengajak orang-orang yang memiliki pengetahuan dalam pengelolaan keuangan. Bertemulah kemudian dengan Mirza Moe'in. Lalu keduanya yang memiliki pengetahuan tentang orang-orang yang memiliki uang mencari orang tersebut untuk diajak bergabung. Bertemulah kemudian dengan H.Dedek Muzammil. Lalu mereka bertiga menarik orang-orang berpengetahuan lain khususnya dibidang tekhnis seperti Aria, Tri Angga, Irawan Kusuma. Lalu berjalanlah bisnis ini. Lalu berkembang dan memerlukan penataan sistem dan manajemen sehingga ditariklah penulis untuk membangun sistem pengelolaan bisnis secara profesional. Saat penulis ditarik tak ada negosiasi pembayaran. Yang ada adalah kesepakatan untuk saling membeckup bisnis masing-masing. Lalu bergabunglah bisnis yang saya kelola dalam bidang percetakan, konveksi, clothing, dan desain komunikasi visual ke dalam swadesiprinting. Semakin luaslah peluang dan kesempatan. Lalu bertambahlah alat produksi, permintaan pasar, perputaran uang, dan jumlah tenaga kerja.
Energi Peduli
Awalnya ada kegelisahan sekelompok orang dengan fenomena sering terjadinya musibah kebakaran di Kota Pontianak. Lalu kegelisahan itu dijawab oleh Romadi Haryono dengan ide untuk membuat badan pemadam kebakaran. Tanpa banyak diskusi ia pun membeli pompa air, saya menyumbang motor, kawan-kawan lainnya menyumbang tenaga untuk memodifikasi motor menjadi kendaraan pemadam kebakaran taktis, ada juga yang menyumbang tempat untuk dijadikan posko. Lalu bergabunglah orang-orang yang peduli lalu bertambahlah relawan dan semakin ramailah bantuan saat masyarakat membutuhkan tenaga untuk memadamkan kebakaran. Lalu beranekalah kegiatan dan berdatanganlah bantuan termasuk juga bantuan dari Bank Indonesia Provinsi Kalbar yang menghibahkan mobil pick up nya untuk pemadam kebakaran ini. 2 tahun berjalan saat ini pemadam kebakaran swadesi telah memiliki relawan lebih dari 30 orang lengkap dengan seragam, HT dan aneka peralatan.
Berbagai bentuk kepedulian dan semangat berbagi juga telah menjadikan beberapa penggiat swadesi menjadi trainer dalam berbagai pelatihan. Baik dalam bidang kewirausahaan, manajemen, kepariwisataan, desain komunikasi visual dan pengembangan UMKM di Kalbar. Saat ini swadesi juga sering menjadi pengajar tamu di beberapa lembaga pendidikan, baik setingkat SMA maupun perguruan tinggi. Teman-teman swadesi juga membantu pemerinta daerah secara gratis untuk membuat brand daerah tujuan wisatanya. Salah satu hasilnya adalah logo dan tagline pariwisata kabupaten Kubu Raya yang digarap oleh penulis, Irawan Kusuma dan Fachrurazi/ Aji.
Kedahsyatan Energi kepedulian akan terus di eksperimentasikan di masa yang akan datang termasuk rencana untuk mendirikan akademi desain grafis, mendirikan sekolah yang muridnya digaji, dan pusat pelatihan keterampilan gratis. Dimana walaupun tak punya dana yang memadai namun rekan-rekan swadesi akan memiliki ruang training centre dengan fasilitas dan luas lokasi yang sangat memadai di kawasan jln H Rais Rahman.
Kemandirian adalah Kekuatan
Meminta adalah kharakter orang yang lemah. Itulah keyakinan swadesi. Jika kita inhin kuat dam semakin kuat, mandirilah! Tegaklah di kaki sendiri. Dengan kemandirian kita akan lebih sibuk mengurusi diri sendiri daripada sibuk mgomongin orang lain. Dengan kemandirian kita akan menjadi pribadi-pribadi yang tak mudah dikuasai dan tak suka menguasai. Dengan kemandirian tak ada yang memberdayakan dan tak ada yang diberdayakan. Semua memiliki kewajiban uang sama untuk membangun eksistensi melalui pengetahuan dan kerja keras. Dengan watak kemandirian itu banyak rekan di swadesi memiliki pengaruh sangat kuat dalam berbagai bidang, baik salam bidang bisnis, sosial kemasyarakatan dan politik. Padahal trend yang digunakan saat ini adalah siapa yang tak mau menjilat maka ia tak akan selamat. Ternyata denhan kemandirian Swadesi tetap selamat dan terus berkembang walaupun tak pernah menjilat.
Bisnis yang dikelola oleh rekan-rekan swadesi, khususnya yang belabelkan "swadesi" dapat berkembang tanpa menjeratkan diri kepada lembaga perbankan. Lebih baik stagnan daripada berkembang melalui modal bank, begitulah kira-kira jargonnya. Pola bisnis melalui sistem kerjasama bagi hasil yang mengedepankan prinsip kesetaraan, kejujuran dan keadilan nyatanya dapat mengembangkan bisnis secara lebih akseleratif ketimbang mengandalkan bank komersial.
Eksperimentasi kemandirian juga diterapkan dalam sistem ketenagakerjaan. Setiap karyawan harus punya keahlian.Keahlian adalah profesi yang menjadikan seseorang bisa hidup mandiri. Mereka yang dilimpahi amanat sebagai manajer, staf manajemen atau kasir adalah wilayah tugas dan mereka berhak mendapatkan kompensasi berupa gaji. Penghasilan mereka akan menjadi tak terbatas apabila mereka mampu dan mau mengembangkan profesi. Tanpa merasa takut gagal dan tak bisa makan, karena urusan makan telah menjadi tanggung jawab penuh perusahaan. Swadesi percaya bahwa modal energi setiap orang untik melakukan hal-hal yang besar di dunia ini adalah sama, yaitu satu piring nasi + lauknya.
Next...
Pengembangan Industri Kreatif
Online promotion
Ekspansi modal Nekad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar